Laporan terbaru yang menganalisis perilaku digital di enam negara Asia Tenggara menempatkan Indonesia di posisi pertama untuk adopsi AI search — melampaui Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Namun di sisi lain, laporan yang sama menunjukkan bahwa brand Indonesia paling tertinggal dalam mengoptimalkan kehadiran mereka di mesin AI.
Angka adopsi AI search di Indonesia
Per Juni 2026, diperkirakan lebih dari 45 juta pengguna internet Indonesia aktif menggunakan setidaknya satu mesin AI search setiap minggunya. Ini naik dari 12 juta pada awal 2025. Faktor pendorong utama: penetrasi smartphone yang tinggi, generasi muda yang tech-savvy, dan meningkatnya kepercayaan terhadap AI setelah banyak kasus penggunaan sehari-hari terbukti berguna.
Kesenjangan GEO: peluang yang mendesak
Paradoksnya: meskipun konsumen Indonesia paling aktif bertanya ke AI, brand Indonesia paling minim mengoptimalkan kehadiran mereka di AI. Ini menciptakan kesenjangan supply-demand yang besar: ada jutaan pertanyaan tentang produk lokal Indonesia yang ditanyakan ke AI setiap hari, tapi AI tidak memiliki cukup informasi berkualitas untuk menjawabnya dengan merekomendasikan brand lokal yang tepat.
Perbandingan dengan Singapura dan Malaysia
Brand di Singapura dan Malaysia sudah mulai mengadopsi strategi GEO lebih awal, didorong oleh ekosistem startup yang lebih mature dan kesadaran marketing yang lebih tinggi. Brand Singapura rata-rata memiliki GEO Score 2.3x lebih tinggi dibanding brand Indonesia di kategori yang sama. Ini adalah gap yang harus dan bisa ditutup — tapi window peluangnya terbatas.
Proyeksi ke depan
Berdasarkan trajektori pertumbuhan saat ini, Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu dari lima pasar GEO terbesar di dunia pada 2028. Brand yang mulai berinvestasi dalam GEO hari ini sedang membangun fondasi untuk dominasi pasar yang akan sangat sulit digeser kompetitor — mirip dengan brand yang menguasai halaman pertama Google di era SEO awal 2000-an.