Survei yang dilakukan oleh lembaga riset independen pada Mei-Juni 2026 terhadap 3.000 konsumen berusia 18-28 tahun di Indonesia menghasilkan temuan yang mengejutkan banyak praktisi marketing: 73% responden menyatakan lebih mempercayai rekomendasi dari mesin AI dibanding iklan berbayar saat mengambil keputusan pembelian.
Mengapa Gen Z percaya AI?
Alasan utama yang dikemukakan responden: AI dianggap tidak punya kepentingan finansial untuk mempromosikan produk tertentu (64% responden), AI memberikan perbandingan yang lebih objektif dibanding iklan (58%), dan AI bisa ditanya tentang kelemahan produk — sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan iklan (71%). Persepsi ini mungkin tidak selalu akurat, tapi itulah yang dipercaya konsumen.
Pola pembelian yang berubah
Yang lebih mengejutkan: 41% responden menyatakan pernah membeli produk yang direkomendasikan AI tanpa melakukan riset tambahan. Ini menunjukkan tingkat konversi dari rekomendasi AI yang sangat tinggi dibanding channel marketing lainnya. Bandingkan dengan tingkat kepercayaan terhadap influencer marketing yang terus menurun di kelompok usia yang sama.
Implikasi untuk strategi brand
Temuan ini mengubah cara kita melihat funnel pembelian. Jika Gen Z langsung bertanya ke AI dan langsung membeli berdasarkan rekomendasinya, maka "memenangkan AI" menjadi sama pentingnya dengan memenangkan awareness dan consideration di channel tradisional. Brand yang direkomendasikan AI untuk kategori tertentu secara efektif melewati banyak tahapan funnel yang biasanya memerlukan biaya besar.
Tren yang akan menguat
Generasi yang tumbuh dengan AI sebagai asisten personal akan semakin mengandalkan AI untuk keputusan konsumsi. Anak yang hari ini berusia 15 tahun dan terbiasa bertanya ke AI untuk segala hal — akan menjadi konsumen dengan purchasing power besar dalam 5-10 tahun. Brand yang mulai membangun visibilitas AI hari ini sedang berinvestasi untuk pasar masa depan.